Halimun dan Ekspedisi Fortuga
Rencana keberangkatan menuju Ujung Genteng yang diteruskan menuju
areaTaman Nasional Gunung Halimun pada Jumat, 26 April 213 sebenarnya
menyisakan satu ingatan lupa di benak saya. Ada apa dengan Halimun,
kenapa memori ini seakan menyangkut dengan satu kejadian tentang
Halimun. Suatu pertanyaan yang terjawab setelah perjalanan berakhir.
Setelah menelisik berbagai hal, pepohonan tinggi, tanjakan dan turunan
curam, areal kebun karet serta kata kunci Abah Anom, mengarah pada satu
hal : Ya, dua belas tahun lalu satu tim dari Jakarta News FM pernah
menjelajahi kawasan Halimun termasuk Cipta Gelar dan bertemu dengan Abah
Anom (alm). Saat itu Ugi (abah Ugi), sang putra yang kini menggantikan
ayahnya sebagai kepala Adat baru masuk sekolah SMA. Sekian tahun
berselang, tak sengaja saya menjelajahi sebagian dari apa yang pernah
dilakukan tim Jakarta News FM, melalui sebuah kegiatan memperingati
Milad ke 40 angkatan 1973 ITB bertajuk Ekspedisi Fortuga.
Sebagaimana tersuratkan dalam siaran persnya, Forum Tujuh Tiga (Fortuga)
adalah komunitas warga ITB angkatan 73 yang anggotanya terdiri dari
kaum professional dengan berbagai disiplin ilmu. Dalam menyambut reuni
ke 40 salah satu acaranya adalah mengadakan ekspedisi di Jawa Barat
yang akan dilakukan dari selatan (Ujung Genteng) ke utara (Kepulauan
Seribu) dan akan terbagi menjadi dua Lintasan. Lintasan pertama adalah
Lintasan Darat sepanjang 250 km akan ditempuh dengan sepeda gunung +
motor trail + mendaki gunung. Ekspedisi dimulai dari Ujung Genteng --
Mengunjungi Kasepuhan Cipta Gelar, komunitas Banten tradisional --
Mendaki 4 puncak (Halimun, Salak, Gede dan Pangrango) -- mengunjungi
situs pra-sejarah piramida G. Padang dan situs masyarakat Bandung Purba
di Gua Pawon -- berakhir di Cekungan Bandung.
Lintasan kedua
sejauh 300 km menyusuri Citarum dengan menggunakan kayak dan perahu
karet. Mulai dari hulunya di Danau Cisanti, lereng G. Wayang – Waduk
Saguling – Waduk Cirata – Waduk Jatiluhur – kota bersejarah
Rangasdengklok – situs bersejarah Batujaya, kompleks candi paling tua di
Indonesia – Muara Citarum – berakhir di Kepulauan Seribu. Bakti sosial,
penanaman pohon bakau dan bibit karang akan dilakukan di Muara Citarum
dan P. Seribu.
Selain membuat dokumentasi foto dari darat,
ekspedisi juga akan membuat film dari udara. Ekspedisi sedang merintis
kerjasama dengan TV-One untuk mengisi acara “Bumi dan Manusia.” Dalam
tayangan TV para ahli dari Fortuga dan beberapa ahli tamu akan menjadi
nara sumber untuk membahas berbagai hal menarik yang akan ditemukan
sepanjang lintasan darat maupun lintasan sungai dan laut. Dokumentasi
Ekspedisi Fortuga akan diterbitkan dalam bentuk buku dan film. Untuk
pelaksanaan Ekspedisi ini Fortuga juga dibantu oleh Wanadri. Misi ini
secara ringkas terucap sebagai Rekam Fakta Cari Solusi.
Tim
terbagi atas tim inti, pendukung, medis, anggota Fortuga dan keluarga,
wartawan serta partisipan. Saya termasuk jenis yang disebut terakhir,
hanya sebagai bagian pelaku rekreasi sains dan budaya.
“...I swear, by the moon and the star in the skies, ill be there.
and i swear like the shadow that's by your side I'll be there. For
better or worse, 'till death do us part. I'll love you with every beat
of my heart. And I swear...”
Dijadwalkan berangkat dari
sekretariat di Rumah Fortuga, Jl. Cisanggiri 4 no. 17, pada Jumat, 26
April 213 pukul 23.00 WIB, terlambat 20 menit. Setelah dipimpin doa oleh
pak Agus, kami start menuju Ujung Genteng pukul 23.20 dengan harapan
moga selamat di perjalanan. 24 peserta yang menggunakan dua bus 3/4
serta jip dan kendaraan 4x4 itu mulai memasuki tol dalam kota Jakarta.
Lantunan I Swear dari kelompok musik Boyz To Men mengawali deretan lagu
yang mengiringi perjalan menuju Ujung Genteng. Memasuki perempatan
Ciawi, dimulailah kepadatan jalur menuju Sukabumi. Jalanan yang rusak
dihantam air musim penghujan mulai menggoyang-goyang kendaraan wisata
itu. Setelah sampai Cibadak, kami berbelok ke arah Pelabuhan Ratu dan
sejenak berhenti di di Mesjid Nurul Huda untuk sejenak melaksanakan
ibadah Sholat Subuh pukul 04.50. Melihat identitas wilayah, kami baru
sampai Citarik, Cisaat, artinya masih jauh perjalanan menuju Ujung
Genteng yang menurut jadwal harusnya kami tiba pukul 07.00. Usai sholat
perjalanan dilanjutkan dan memasuki waktu terang tanah, kami mulai naik
perbukitan. Planet besar berwarna bulat merah yang cantik menarik
perhatian, sehingga sekretaris Fortuga pak Aam mulai mengarahkan
kameranya menembak obyek. Tepat pukul 06.00, bus mulai masuk kawasan
perbukitan Ciawitali Loji dan 15 menit kemudian rombongan mulai masuk
Jl. raya Cigaru kecamatan Simpenan. Setelah melewati areal perkebunan
teh , matahari mulai menyapa terang. Dua orang emak pemetik teh nampak
jalan bergegas, ekonomi mulai menggeliat di antara hamparan teh.
Hari sudah sangat terang ketika rombongan memasuki pom bensin kecamatan
Surade tepat pukul 08.02 pagi. Setelah meluruskan punggung, matahari
mulai menyengat sementara pantai Ujung Genteng masih 25 KM lagi.
Rombongan kembali bergerak pukul 08.20 dan akhirnya dua menit sebelum
pukul 9 pagi kami sampai di pos retribusi pariwisata. Setelah
menyelesaikan urusan bebayaran, perjalanan berlanjut dan tepat sampai
lapangan pos TNI AU pukul 09.08, terlambat lebih dari dua jam.
Di lapangan ini kami bertemu tim gowes ekspedisi yang dipimpin pak Joey
Sumual. Setelah acara tetepangan, rombongan mendapat paparan awal
ekspedisi tentang penambangan pasir besi dan emas dari pak Sumardiman
DW. Penambangan pasir besi ini permasalahannya bukan semata soal
lingkungan tetapi angkutan truknya dikeluhkan masyarakat karena merusak
jalan aspal.
Tim sepeda memulai persiapan gowes menuju
Pelabuhan Ratu. Bendera ekspedisi diserahkan ketua Panitia Ekspedisi pak
Jusman kepada pak Joey Sumual. Tepat pukul 10.22 tim berdoa dan dua
menit kemudian tim gowes menuju pelabuhan Ratu dipimpin pak Joey. Kami
sendiri sejenak menikmati sarapan pagi yang terlambat dengan nasi Krawu,
sementara beberapa anggota Fortuga menyasar tempat penjualan ikan untuk
dibawa naik ke Cipta Gelar Gunung Halimun. Tepat pukul 10.50 rombongan
meninggalkan pos TNI AU Ujung Genteng menuju Pelabuhan Ratu. Sejenak
perjalanan dibelakang kami terkendala karena Jip merah pembawa logistik
menabrak tiga sepeda motor karena pengemudinya mengantuk. Lebih dari dua
juta rupiah akhirnya keluar sebagai pengganti reparasi. Akhirnya
Profesor Seno ambil alih kemudi dan tak diduga beliau adalah pembalap
ekstrim. Sempat tertinggal jauh, beliau menyalip sehingga tiba duluan di
Pelabuhan Ratu. Memasuki waktu Dhuhur, mendung terlihat menggayut
diatas perjalanan. Setelah lebih dari tiga jam kami berada di kawasan
jalan sempit yang ngepas jika berpapasan kendaraan roda empat. Tak lama
rombongan mulai melihat Power Plant Pelabuhan Ratu dari Jl. Bojong Kopo
di atas bukit. Pemandangan yang indah membuat kami sejenak berhenti
pukul 14.22 siang itu untuk sekedar membidik lembah pantai yang indah.
Beberapa orang memesan kopi pelawan penat. Setelah sebelas menit rehat,
kami beranjak lagi menuju Pelabuhan Ratu yang sudah dekat di mata.
”Pan baheula si eta bogoh,” kata pak Aam
Dan mulailah roman-roman lucu masa kuliah era 73-an di kampus ITB
bertabur diatas meja lesehan restoran Saridona. Tepat pukul 15.12 kami
sampai di sana, di bibir pantai Pelabuhan Ratu. Ikan bakar dan karedok
mendominasi menu makan siang. Para pedagang golok dan pisau menawarkan
bawaannya dan beberapa anggota Fortuga menyambut dengan mengeluarkan
lembaran merah. Chief panitia Pak Jusman malah dipijit oleh tukang yang
menawarkan refleksi, sementara beberapa anggota Fortuga mencari pijit
gratisan dari pak Dwitjahjadi. Pak Dwi dulu kuliah Biologi, jadi
dianggap tahu anatomi, padahal alasan apalagi kalau bukan ingin pijat
gratis.
Setelah sekitar satu setengah jam, tepat pukul 16.42
kami mulai beranjak menuju Cisolok - Cikadu. Sebetulnya menuju Cipta
Gelar lebih dekat lewat Cipta Rasa, tapi truk yang membawa rombongan tak
berani melewati terjalnya rute Cipta Rasa – Cipta Gelar. Tim Gowes
belum ada tanda sampai dimananya. Dari sana akan dilanjutkan naik ke
Cipta Gelar dengan berganti kendaraan. Hari mulai gelap ketika kami
sudah dekat Cikadu. Jam menunjukkan pukul 18.08 dan hujan turun. Jalan
yang sempit serta bebatuan kali yang memenuhi pinggir jalan untuk
perbaikan selokan menciutkan nyali supir bis. Akhirnya bis berhenti di
kampung Cicadas pukul 18.37 dan berganti kendaraan disana.
Hujan yang mengguyur tak menghentikan gelora untuk mencapai Cipta Gelar.
Truk yang kami naiki segera meluncur pukul 20.42 menuju Cipta Gelar.
Setelah melalui jalan yang cukup mulus, truk mulai memasuki jalanan
berbatu yang terjal. Dag dig dug yang menyertai gelapnya malam tak
berlaku bagi Chief Ekspedisi pak Jusman. Dengan santai beliau rebahan di
dasar bak. Menjelang tanjakan curam nan panjang, truk berhenti dan
sopir menyingkir, memetik ranting berdaun dan meletakkan dibawah untuk
alas duduk. Tampaknya ia berdoa dulu sebelum balik ke truk dan menancap
gas dalam curamnya perbukitan. Hujan kembali mendera dan akhirnya dalam
dua jam dua menit kami sampai di Cipta Gelar. Di alun-alun nampak
sejumlah kendaraan pengunjung Kasepuhan. Tampaknya ada dua rombongan
datang sebelum kami tiba, tak masalah, Imah Gede sanggup menampung
hingga seratus orang tidur didalam. Hujan masih menghiasi malam.
Malam itu kami segera masuk Imah Gede dan berkenalan dengan kepala adat
Abah Ugi serta emak istrinya. Ia masih muda, kelahiran tahun 1985,
sementara emak kelahiran tahun 1988. Mereka sangat ramah, termasuk kang
Oyo, orang kepercayaan abah Ugi. Oyo sendiri bukanlah warga asli adat,
ia pendatang dan karena saking cintanya pada Cipta Gelar, tak pernah
lagi ia menginjak dunia di luar kampung adat.
Imah Gede sangat
menarik. Bagian dapur adalah favorit, karena dihangatkan oleh tungku
kayu bakar. Kami berbincang dengan abah Ugi dan emak sampai larut,
sebelum semua orang beranjak tidur. Keberadaan Kasepuhan Banten Kidul di
kawasan Halimun sebenarnya membawa banyak kearifan lokal, sayang mereka
terdesak aturan. Semestinya aturan bisa bersesuaian dengan hak tanah
ulayat karena mereka sendiri telah ada sejak 600 tahun lalu. Aku sendiri
diajak kang Oyo menginap di rumahnya, sekitar 30 meter di depan Imah
Gede. Rumah yang tampak sederhana dari luar namun begitu menginjak
kedalam tampaklah intelektualitas sang pemilik. Berbagai buku berderet
di rak. Pemancar, komputer, dan sederet barang elektronik tersedia.
Hebatnya pula, di puncak gunung seperti ini ada kampung yang punya
stasiun TV. Abah Ugi menamainya ”Ciga TV”, yang dalam bahasa Indonesia
berarti ”seperti TV”.
Keesokan hari geliat kehidupan
langsung terasa sejak pagi buta. Para abdi Imah Gede telah bersibuk di
dapur menyiapkan sarapan. Ikan yang dibawa dari Ujung Genteng segera
diolah untuk dinikmati bersama.
Seremoni pelepasan pendaki
dilakukan. Chief ekspedisi pak Jusman. Beliau melepas rombongan naik
puncak Halimun pada pukul 11.23. Para pendaki adalah enam anggota
Fortuga yaitu pak Iwan Bungsu, pak Vicky, pak Gume, pak Darman, pak Agus
dan beberapa anggota Wanadri. Kami sendiri malah dipersilakan makan
siang sebelum Dhuhur memanggil. Usai menjalankan ibadah duhur, rombongan
bergerak menuju Cipta Rasa. Sembilan kilometer rute yang harus dilalui
kami tempuh dengan riang. Betapa tidak, hutan eksotik dengan kayu-kayu
yang menjulang sangat tinggi lurus membuat kami mengucap takbir. Luar
biasa indah dan segarnya hutan ini. Beberapa kali truk mini tak kuat
menanjak, sehingga sekali waktu Jip Jepang harus menariknya dari terjal.
Pukul 13.53 kami sampai di Cipta Rasa
”Punten bapak, parantos teu portalna?” tanya emak muda penjaga Imah Gede Ciptarasa
”Oh kunaon kitu?” tanya saya
”Buka portal kanggo pemeliharaan jalan per mobil disuhunkeun Rp. 15.000”
”Oh muhun. Ieu aya genep mobil, nyak”
Tapi bukannya membuka dompet, saya malah mengabari bu Fati.
Seorang peserta diperiksa tensi darah karena nampak pucat. Chief Jusman
juga memeriksakan tensinya. Dalam hal ini, beliau hanya ingin tahu
apakah ada pengaruh penggunaan ikat kepala Kasepuhan dengan urusan
kesehatan. Dan nampak ada hubungannya. Tak berlama kami lanjutkan
perjalanan. Rute Cipta Rasa-Pelabuhan Ratu tak seterjal dari Cipta Gelar
tadi. Kami juga menikmati perjalanan paruh kedua ini, bersapa dengan
penduduk kampung dan pukul 16.04 sampailah rombongan di Pelabuhan Ratu.
Bus yang membawa rombongan telah menunggu disana. Enam menit kemudian
kami meluncur menuju Jakarta dan menyempatkan singgah di restoran Sunda
untuk santap malam. Perjalanan yang mantap. Kami menunggu kabar para
Fortuga-er pendaki Halimun.



