Bang Bram,
Begitulah saya biasa menyapanya. Ia adalah senior beda fakultas yang terpaut dua dasawarsa dengan saya di kampus, yang menurut Hariman Siregar : sekolah anak kampung. Bram adalah “raja” kala sebayaan Boni Subono menjadi penghuni kampus. Sesuatu yang diamini Boni dengan keterpukauannya melihat aksi orasi dan ekspresi Bram sebagai seorang aktivis. Pada saya, Bram kerap bercerita tentang kebandelannya dan kesukaannya berkelahi. Namun melihat sosok masa kininya yang cool, hangat dan ketakwaannya, terasa sulit mempercayai ceritanya. Selama mengenal Bram Zakir, kesan saya ia tak lebih dari orang yang baik.
Bram juga nekad. Di bulan April 2008 ia bersepeda dengan kencang menuruni jalur Cisarua Puncak, meski jalanan basah oleh hujan. Alhasil Bram terjatuh dan mengalami luka di lututnya. Ada juga kesan saya terakhir dengan Bram ketika ia membayari saya makan gado-gado gerobak dorong di Pondok Indah. Bram bilang ia suka gado-gadonya, enak, pakai sumpah segala.
Buku ini akhirnya ditulis, berangkat dari bincang bincang saya dengan Bram Zakir dengan rekaman video. Pertemuan dilakukan tiga kali pada 14 Desember 2007, 10 Maret 2008 dan 12 Juni 2008. Saya melihatnya sebagai easy going man, meski penyakit ganas menghinggapinya. celetuk ringan juga saya lontarkan : “Bang, kok gak meledak-ledak, seperti dulu ?”. Ia hanya menjawab singkat : “ah udah tua !”
Kenangan itu tertinggal, seiring kepergiannya menghadap Sang Khalik. Buku kecil ini tak berarti apa-apa dibanding perjalanan dan pergulatan pemikiran seorang Ibrahim Gidrach Zakir. Namun sepetik pemikirannya terasa perlu disimak untuk mengenal Bram. Khususnya bagi mahasiswa generasi kampus UI, yang rasanya makin menjauh dari sebutan sekolah anak kampung.
Ia, sepertinya, salah satu legenda aksi mahasiswa.
Hurri Junisar