Friday, March 11, 2011

Rudi

Tahun 1901.

Di sebuah sudut terpencil wilayah Bandung, Bosscha menantang larangan penguasa kolonial Belanda bagi kaum pribumi untuk mengenyam pendidikan sekolah. Dengan keberaniannya, ia mendirikan Sekolah Dasar bagi anak-anak perkebunan teh Malabar…

Di era Orde Baru,

Di sebuah tempat yang tak jauh dari Jakarta, sekolah bagi anak-anak perkebunan teh Ciliwung Puncak Bogor baru berdiri tahun 1982. Itupun dirintis atas keprihatinan seorang pendatang, dalam rintih dan hambatan...

ALIAS ALIAS, bermasalahkah namamu ?

Sinopsis

Disuatu perumahan, Dalam hujan Desember 1984, lahir seorang bayi laki-laki dari rahim ibu Susan yang bersuamikan Anton Wicaksono. Sang bayi diberi nama Papin (baca : Papang), tatkala sang ayah terinspirasi pemain sepakbola handal Perancis saat itu Jean Michael Papin. Rupanya Papang adalah kosa kata bahasa sunda yang berarti buang air kecil. Secara kebetulan sang anak dalam perjalanan menuju kedewasaannya sering menemui kesialan : raport merah, terbawa arus sungai meski terselamatkan, ditodong preman hingga dikencingi orang gila. Papin mengeluh dan ayahnya berinisiatif mengganti nama agar Papin tidak mengalami kesialan lagi. Ia lantas memberi nama baru sang anak : Raden Wongso. Papin alias Raden Wongso menerima diri dengan nama barunya hingga suatu saat ia menjadi korban salah tangkap polisi karena dianggap anggota kriminal kelompok Damar Wongso. Hidupnya pun kerap dicekam ketakutan, hingga kegelisahan Raden Wongso direspon orang tuanya. Orang tua atas saran beberapa pihak memberinya nama baru : Rian Baratha Mulyawan. Disini persoalan kesialan berhenti dan Rian alias Raden Wongso alias Papin menjalani kehidupannya dengan riang.

Suatu ketika dalam ujian PTN, Rian dicurigai menjadi joki karena namanya berbeda dengan KTP. Pun juga ketika memenangkan sebuah perlombaan kreativitas. Saat akan mengambil hadiah, Rian menyodorkan KTP yang ternyata KTP itu dibuat ketika ia bernama Raden Wongso. Rian ngotot mendapatkan haknya dan panitia juga ngotot menyatakan bahwa ia bukanlah Rian Baratha, yang memenangkan perlombaan sesuai data di panitia. Keributan itu ditangani kepolisian dan Rian kembali diperiksa polisi. Rian lantas merenung.

Disuatu pagi yang cerah Rian menghampiri orang tuanya. Kali ini ia yang meminta nama baru.

Bram Zakir


Bang Bram,
Begitulah saya biasa menyapanya. Ia adalah senior beda fakultas yang terpaut dua dasawarsa dengan saya di kampus, yang menurut Hariman Siregar : sekolah anak kampung. Bram adalah “raja” kala sebayaan Boni Subono menjadi penghuni kampus. Sesuatu yang diamini Boni dengan keterpukauannya melihat aksi orasi dan ekspresi Bram sebagai seorang aktivis. Pada saya, Bram kerap bercerita tentang kebandelannya dan kesukaannya berkelahi. Namun melihat sosok masa kininya yang cool, hangat dan ketakwaannya, terasa sulit mempercayai ceritanya. Selama mengenal Bram Zakir, kesan saya ia tak lebih dari orang yang baik.
Bram juga nekad. Di bulan April 2008 ia bersepeda dengan kencang menuruni jalur Cisarua Puncak, meski jalanan basah oleh hujan. Alhasil Bram terjatuh dan mengalami luka di lututnya. Ada juga kesan saya terakhir dengan Bram ketika ia membayari saya makan gado-gado gerobak dorong di Pondok Indah. Bram bilang ia suka gado-gadonya, enak, pakai sumpah segala.
Buku ini akhirnya ditulis, berangkat dari bincang bincang saya dengan Bram Zakir dengan rekaman video. Pertemuan dilakukan tiga kali pada 14 Desember 2007, 10 Maret 2008 dan 12 Juni 2008. Saya melihatnya sebagai easy going man, meski penyakit ganas menghinggapinya. celetuk ringan juga saya lontarkan : “Bang, kok gak meledak-ledak, seperti dulu ?”. Ia hanya menjawab singkat : “ah udah tua !”
Kenangan itu tertinggal, seiring kepergiannya menghadap Sang Khalik. Buku kecil ini tak berarti apa-apa dibanding perjalanan dan pergulatan pemikiran seorang Ibrahim Gidrach Zakir. Namun sepetik pemikirannya terasa perlu disimak untuk mengenal Bram. Khususnya bagi mahasiswa generasi kampus UI, yang rasanya makin menjauh dari sebutan sekolah anak kampung.
Ia, sepertinya, salah satu legenda aksi mahasiswa.
Hurri Junisar