Friday, February 29, 2008

apa kabar pak Himawan ?


Ini dia salah satu tentara idolaku. Dia adalah letjen (purn) Himawan Sutanto. Mencapai jabatan pangdam Sriwijaya pada usia 40 tahun dan pangdam iliwangi pada usia 48 tahun, Himawan punya kans menjadi Kasad atau Pangab. Hanya saja pembelaannya kepada gerakan mahasiswa Bandung, ITB khususnya, membuat Himawan menyadari tak akan mencapai posisi puncak itu. Ia tak mau berpolitik. Membangkang perintah Suharto untuk menyerbu represif kampus ITB tahun 1978 mengakhiri jenjang jabatan militernya sehingga ia disalip oleh juniornya Beni Murdani dan Rudini. Himawanpun didubeskan di Malaysia dan pensiun pada pangkat letnan jenderal.
Mengisi hari tua dengan banyak aktivitas masih dilakukan Himawan. Salah satunya setelah mengambil magister sejarah di FIB UI, Himawan meneruskan program doktoral di jurusan yang sama. Selamat pak Himawan, terus berkarya dan panjang umur.






















enjoyy..

enjoy today. nikmati banget hari ini karena hanya akan terulang empat tahun lagi. Ya..... it.s kabisat, 29 Februari 2008. Tahun 2012 baru akan terulang tanggal ini. BTW akankan empat tahun lagi rakyat masih muram ?

Thursday, February 28, 2008

absurditas tradisional NU

Berbicara perihal ormas keagamaan di Indonesia akan menyebut dua hal : NU dan Muhammadiyah. Padahal diluar itu masih banyak ormas lain seperti Hizbut Tahrir, Muslimin Indonesia, FPI hingga organisasi kecil lainnya setingkat kecamatan atau kelurahan. Nah NU dan Muhammadiyah ini merupakan organ terbesar di Indonesia yang terpisahkan diantaranya oleh sebutan tradisional dan moderat. Secara kultur, Nahdiyin bercirikan organisasi konvensional, santri yang sarungan, mengkaji kitab kuning secara mendalam dan mempelajari keislaman yang tak beranjak dari kultur kelahirannya. Ulama dalam Nahdiyin dinyatakan sebagai Kyai, yang lalu berlaku umum untuk menyebut seseorang dengan tingkatan ilmu yang tinggi mengenai keagamaan islam sehingga menjadi tuntunan dan pegangan pribadi muslim. Kyai menyebarkan salam spiritual, mewujud menjadi pimpinan pondok pesantren yang menghasilkan ustad ustad pembimbing agama. Sementara di tingkat itu dalam organisasi Muhammadiyah mewujud pada buya. Beberapa buya terkenal misalnya Buya Hamka dan Buya Syafii Maarif.
Sekedar catatan, ini pandangan orang yang awam....
Di masa kontemporer ini NU masih memegang paham yang tradisional itu. Menjaga kemurnian ajaran islam dari perkembangan pesat zaman yang nyata-nyata merusak aqidah, moral, ukhuwah, kultur dan sosial. Coba masuk ke mal atau plaza. Disitulah daerah bebas norma. Perempuan bercelana pendek, tanktop, mesra-mesraan muda-mudi mudah saja terjadi. Bagi umat islam sendiri tak bisa membedakan mana siang mana malam, sudah masuk waktu asar belum, sudah masuk waktu magrib belum, tidak ketahuan kalau tidak menengok arloji. Tradisionalitas inilah yang menjadi kekuatan NU, konsistensi ajaran islam yang tak berubah sepanjang masa mengikuti bagaimana zaman dulunya ajaran itu disebarkan dan dipelajari.
Namun, bagaimanapun perkembangan zaman tak mampu dibendung oleh istiqomah ilmu, bahkan ilmu masa kini sekalipun. Anak-anak muda yang lahir di era komunikasi modern, bahkan masa kini yang era digital, pasti terpengaruh. Mereka bertahan dan ada pula yang memberontak atas pemasungan tradisional ini. Inilah yang mungkin kuran dipahami para "senior" Nahdiyin, para sepuh yang menganggap kaum muda NU, intelektual muda NU yang cerdas itu akan senantiasa tradisionil. What the Fact is ? Ini zaman modern, ini metropolitan, tak mungkin lagi mereka itu mesti sarungan sementara bioskop memanggil-manggil untuk ditontoni. Mal yang merayu untuk disambangi. Arena hiburan, pijat, Bilyar, yang bertebaran diseantero jengkal tanah. Mampukah melihat ini, kaum muda NU itu bisa menghadapkan lima jari di seberangnya ? berkoar NO ! tidak !!. Berat kali ya ?
Pejuang era sekarang tak lagi berbasis di kelas, sudut musholla, atau majelis taklim. pejuang masa kini sudah menikmati gurihnya moccacino kafe sembari melihat pemandangan luar dari balik kaca besar mal mewah. Perjuangan, pemikiran, menjadi suatu kenisbian untuk dibarengi gaya hidup.
Seorang kawan muda Nahdiyin yang pernah bekibar namanya di jajaran pergerakan, ketika dengan guyon kuperingatkan untuk tetap berbasis nahdiyin yang santun, tradisional, taat islam, mana halal mana haram, dengan mudahnya berkata : "Ah, itu kan cuma fiqih". No more comment.
So bukankah menjadi sebuah absurditas tradisional itu ? khususnya bagi kalangan muda ?

Wednesday, February 27, 2008

Si Very

Very Verdiansyah,
Nama itu adalah nama teman sekantorku di sebuah workshop bilangan Pondok Indah. Pertama kesan yang kutangkap dari nama itu adalah pemakaian huruf yang salah. Very, mestinya Fery atau Pery atau Peri atau Feri mungkin lebih baik. Lalu Verdiansyah, mestinya Ferdiansyah. Tak tahulah memang orang tuanya yang memberi nama begitu. sebab kutanya artinya apa ? Very tak mampu menjawabnya. What is the name ?... Shakes icon itu sekelebat lewat dalam hati.
Very sedang menjajaki sebuah hubungan serius dengan seseorang yang tengah mengambil master di negeri jiran Malaysia. Hebat lah Ver, ucapku memberi semangat. Asal jangan suatu saat nanti kamu bergabung dengan ISTI (ikatan suami takut istri), karena secara kultur sang istri setingkat ada diatas, lebih berpendidikan.
Orang Sukabumi ini pernah membuat karya fenomenal. Judulnya Menafsir Agama Untuk Praksis Pembebasan. Isinya cukup komprehensif dengan pelibatan pemikir-pemikir dunia terkemuka. bayangkan, agama ditafsirkan oleh manusia, sang subyek dan juga obyek dari agama itu sendiri. Dan demi bebas dari penjara spiritual, maka perlu menafsir agama itu dengan menjalankan syariatnya tanpa harus terjebak dogma-dogma tradisional dalam agama, yang sifatnya kolot karena agama itu ciptaan manusia ribuan tahun lalu. Agama langit, bumi, air atau apalah namanya. Buku itu sebenarnya hanya buku skripsinya untuk lulus dari UIN Syarief Hidayatullah. Bisa jadi, almarhum Syarief akan membacanya juga bila masih hidup. Sekedar skripsi ya ?, nanti dulu. Buku itu merangsang lahirnya pemikiran-pemikiran post spiritualisme yang lain, menjadi perbincangan di kalangan theolog dan praktisi rohaniawan serta menjadi acuan untuk praksis pembebasan spiritual yang progresif. Hal itu berlangsung hingga kini. Bisa jadi buku Keyakinan Yang Membebaskan karya Erwin Pardede pun terinspirasi buku karya Very ini. anak bangsa yang lahir nun jauh di suatu sudut kecamatan Parakan Salak Sukabumi.
Tapi bukan itu yang fenomenal. Yang fenomenal bagiku adalah sosok Very itu sendiri. Pikiran dan ucapannya benar-benar terbebas dari rantai dogma. Ia begitu menjiwai filosofi yang pernah ditulisnya dalam buku skripsi itu. terlebih bila bertemu dengan kedua orang tuanya di Sukabumi, yang taat beragama bahkan menjadi tokoh masyarakat, Very adalah pribadi yang membebaskan diri dari keterikatan itu. Fenomenal.

what if....

what if...
Apa yang kita bisa lakukan jika ?....
Hmmm...
Ada beberapa tema, tapi cukup dua saja yang ingin kuberbagi disini :
1. Umroh bersama Ihsan
2. Bayar pajak mahal

Umroh bersama Ihsan. Kalimat iklan itu selintas lewat didepan mataku. Ikhsan, pemenang Indonesian Idol itu didaulat untuk menemani mereka yang akan beribadah ke tanah suci. Menjadi haji kecil. Wow alangkah hebatnya. Terkesan bahwa umroh bersama ikhsan akan menyenangngkan, sekaligus berpahala. Apa hukumnya ya bila ibadah itu mengikuti kesenangan dahulu sementara ibadah (umroh dalam hal ini) menjadi nomor duanya saja. Aku agak terganggu dengan kalimat itu, mengapa mengedepankan bersama artis kita beribadah ?, apakah justru akan menjauhkan dari khusyuk ? karena topik hariannya bisa jadi rumpi bersama sang idol. Ataukah aku salah, yang terjadi sebaliknya mereka akan makin khusyuk berumroh karena umroh yang menyenangkan bersama artis pemenang idol. What if.... aku pada posisi Ikhsan, kira-kira seperti apa perasaanku ya ? aku sendiri bertanya-tanya. Rasanya aku menanggung beban, mereka umroh bisa saja karena kutemani, bisa juga karena niat tulus dan "kebetulan" bareng Ikhsan. Tapi aku galau, kesertaanku menemani umroh itu juga berarti memabrurkan umroh mereka. Wallahu alam.
Aku tak membenci Ikhsan. Aku bangga anak itu sejak kulihat dikebun bersama ayahnya di Medan sana sebelum proses Idol yang mengantarkan dia menjadi pemenang. Aku juga mendukung dia untuk menang menjadi idol Indonesia, dan terwujud. Hanya saja disayangkan anak itu masih labil kejiwaannya apalagi dia menemui dunia hedonitas rakus di Jakarta, sementara Ikhsan berangkat dari sebuah keluarga secara tampilan islami. Be careful san, jangan sampai kamu jatuh saja...

What if kedua...
bayar pajak mahal.
ya memang mahal sekali, lebih mahal daripada "pajak" zakat. Secara logika coba deh dilihat dan direnungkan. pajak itu buatan manusia semata dan aturan zakat itu buatan juga tetapi tak semata manusia ansih. dia bermuatan kesalehan sosial, kepedulian dan maslahat. Pajak itu bisa lima persen, misal jual beli rumah. Jadi kalau rumah harganya seratus juta, lima juta pajaknya dan belum bayar lain-lain termasuk notaris. Lalu bisa juga pajak balik nama kendaraan bermotor. Pajak rokok malah hebat, 35 persen (bener gak ya). pajak penghasilan pribadi juga besar, tapi lihat "pajak" zakat. Hanya dua setengah persen saja. Fitrah apalagi dalam setahun paling besar cuma lima belas ribu perorang. He..he..he...
What if.. angka pajak diperkecil namun pembayarnya diperbanyak. mungkin mereka yang selama ini menghindari pajak akan rajin membayar jika merasa tak terbebani dengan angka yang besar. bisa saja npwp mencapai 90 persen orang berpenghasilan jika komponennya murah. Baru deh boleh teriak : "Apa kata dunia ?!"

Maaf kalau banyak salah. memang bisanya ngritik. maaf loh

Monday, February 11, 2008

Valentine...

Setahun lalu nulis dikit tentang valentine. Ya sekarang dikit jugalah. Pesannya : lihat saja yang tahun lalu he..he..he..

Jalan raya Pondok Cabe

Pagi tadi, berangkat kerja dari pamulang lewat jalan raya Pondok Cabe begitu padat oleh kendaraan yang melintas. Semula kufikir karena hari senin pagi maka suasana orang berangkat kerja lebih lain dari biasanya. Ternyata pandanganku sedikit keliru. Biasanya senin pagi jalur ini memang lebih ramai tetapi tadi pagi bukan sekedar karena senin pagi, tapi kenyataan yang tak terbantahkan bahwa volume kendaraan memang sudah sangat dahsyat banyaknya. Volume kendaraan ini terus bertambah day by day, bulan demi bulan dan seterusnya. Volume pertambahan kendaraan ini memang kurasakan dimanapun tempat di jalan raya dan non raya. Aku teringat sewaktu masih sekolah di SD, sering main sepatu roda di jalan raya depan rumah nenek. Jalan raya begitu mulus dan sepi pada saat itu. Sekarang ? jangan tanya. Nyebrang jalan saja susah. Di Depok juga begitu. Sewaktu mulai kuliah disana tahun 1992, aku ditawari tanah sepetak di jalan raya Kukusan. Harganya ? 45 ribu semeter. Bah ! untuk apa beli tanah di jalan sepi kayak gini, batinku saat itu. sekarang ? jangan tanya arus kendaraan di jalan raya kukusan. Ramai banget dan harga tanahpun melambung jutaan rupiah semeter. Nyesel juga kenapa gak beli untuk sekedar investasi, begitu. Lalu jalan raya Parung. Waktu itu sepi sekali. Sekarang ?. No komen deh. Lalu jalan raya didepan rumah uwakku di Cihaurbeuti Ciamis. Dulunya tiduran di jalan aspal gak bakal ada yang melindas. Yang banyak lewat sepeda, kerbau, orang desa dll. Sekarang ? jadi jalan raya propinsi dimana bus-bus besar juga lewat kesitu. Nyebrang jalan juga susah, mesti nengok kiri kanan, gak seperti dulu lagi. Sama juga waktu aku masih SMP berangkat dari rumah Margaasih ke Cimahi, nunggu angkot susah dan lama. Sekarang ? sudah jadi jalan raya utama menghubungkan Cimahi dan Soreang sebagai ibu kota kabupaten Bandung. Sepi ? gak lagi. Macet parah malah. Hitungan waktunya kurang dari dua puluh tahun.
Kembali ke Pondok Cabe, seperti apa ya lima tahun kedepan ?, rasanya makin padat saja. Kasihan juga angkot yang lewat sana, meski nyebelin karena sering kepot kanan kiri, makin seret saja kali kehambat macet. Bagaimana pula sepuluh tahun kemudian ?, lima belas, dua puluh, dua puluh lima tahun ?.
Ampun pak, Jawa terbenam oleh besi-besi tunggangan. Bila itu terjadi, apa yang kemudian terjadi ?. Mungkin Bang Dedy Mizwar bilang : kiamat sudah dekat, he..he.. Mungkin juga makin berat tugas polisi lalu lintas. Tapi apa yang bisa menghadang modernisasi kayak gini ?. Ini industri yang gak bisa distop, menyangkut devisa, tenaga kerja, ekonomi, moneter, hubungan baik negara produsen-negara konsumen, gaya hidup masyarakat, pemasukan pajak, dll.
So, bisa saja kepadatan dikurangi. Misal budaya kerja di rumah seperti Korea, data kirim cukup lewat internet. Rapat paling seminggu sekali atau dua kali bertemu. Bisa gak ya di Indonesia ?. Gak bisa kali yeee karena ada tradisi masuk kerja cuma sekedar setor muka (maaf gak menyinggung siapa-siapa, karena saya sendiri tersinggung), gak ada produktivitas sama sekali.
(Ngelus dada) Aku hanya melihat di kejauhan, kedamaian yang samar, semu, ilusif. Motor dan mobil makin garang, gak mau ngalah di jalan yang makin sempit itu.

Friday, February 08, 2008

I wonder.....

Kenapa tulisan ini aku beri judul i wonder...
Ceritanya begini, tadi ketika menjalankan ibadah Jum'at, aku datang ke mesjid sedikit terlambat. Kulihat ruang dalam mesjid sudah penuh jadi aku memilih tempat di bagian selasar kiri luar. Untungnya dari kantor selalu mempersiapkan sejadah, sekiranya mendapat tempat sholat diluar mesjid tidak masalah. Usai adzan awal aku sempatkan shalat sunat dahulu hingga kemudian ritual shalat jum'at masuk ke khotbah dan shalat dua raka'at. Nah sebelum shalat dua raka'at ini kebetulan seorang umat berdiri disampingku. Menyadari dia tidak membawa sajadah, segera saja kuambil sajadahku yang sudah terhampar untuk dibaringkan horizontal agar umat tersebut tidak sujud pada lantai yang kotor. Maksud hati berbaik, tak dinyana tanganku yang menggenggam sajadah, hendak menghamparkan untuknya, ditepis olehnya. tepisan itu mengenai punggung tanganku dengan ucapan : "sudah nggak usah ?". Aku sedikit terhenyak. Nada ucapan itu terasa kurang sopan. Sepintas kulirik jemaah jum'at itu, putih, berkoko, peci sorban dan janggut yang cukup panjang, tipikal ustad dalam pengajian. Usianya mungkin baru 25 - 30 an. Aku lantas merebahkan lagi sajadahku vertikal untukku sendiri. This is i wonder..., aku bertanya-tanya siapa jemaah itu ya ? tiada senyum diwajahnya atau ucapan terima kasih mungkin, sekiranya menolak uluran sajadahku. padahal lantai kotor, apakah ajaran keyakinannya harus shalat tanpa alas, atau tak boleh menggunakan barang orang, ataukah ini yang disebut islam tak ramah, atau apa ya ?. Pertanyaan itu membayangi terus menerus hingga shalatku menjadi tidak khusuk (meski sehari-hari juga mungkin tak khusuk, hehe..). Tapi kentara sekali sikap umat itu mengganggu ibadahku. Usai shalat kucoba silaturahmi dengan mengulurkan tanganku. Ia menyalami singkat senempelnya saja, tanpa kata-kata dengan mimik dingin. Usai doa sejenak, aku beranjak pergi.
Di luar mesjid, i wonder.... mungkinkah dia malaikat yang menguji kesabaranku ?, atau manusia yang diutus menguji kesabaranku, atau sebetulnya tak ada peristiwa luar biasa, itu hanyalah bagian rutinitasnya sehari-hari ?. Ah sudahlah. Tapi memang usikan ini mengenangku kembali pada wajah muslim yang ditakuti barat. Sesama muslim saja tak ramah....
I wonder...

Tidak parah ya tidak usah minum obat

Andra flu, tapi nggak begitu parah. kayaknya sehari sebelumnya dia kecapean dan terlalu lelah, sehingga mudah tertular penyakit. Ya akhirnya ibu sibuk melap hidungnya yang kerap meler. Lagipula Andra sering banget jalan-jalan naik motor jadi mungkin keanginan juga. Tantenya lalu menyarankan memberi obat untuk Andra tapi aku melarang. Bukan tak sayang anak, aku dari dulu selalu menghindari penggunaan obat (kalau bisa), karena obat itu bersifat kimiawi yang merusak sel yang lain. Apalagi Andra umurnya belum dua tahun. Ya sudah akhirnya dia diberi makan yang banyak dan minum apa saja yang skiranya memberi nutrisi. Betul, besoknya Andra mulai berkurang pileknya tapi masih cengeng, mungkin karena hidungnya tersumbat sehingga Andra merasa tak nyaman. Cepat sembuh ya !







Wednesday, February 06, 2008

Mispersepsi kecil, kapanpun bisa terjadi

Bangun tidur pagi ini kesiangan, maklum ngantuk banget dan semalam habis main PS sampai larut. berhubung istri dan si kasepkid sedang tinggal di serpong tempat adiknya, waktu tak terasa bergulir hingga aku kecapean dan tidur.
Paginya aku baru bangun tidur, sehabis subuh yang kesiangan itu, kurasakan perut ini terasa sangat lapar. Kufikir, pasti karena semalam tidak makan maka pagi ini perut melilit berteriak minta diisi. ya sudah aku segera mandi dan berangkat kerja. kusempatkan mampir di warung nasi padang dan memesan nasi serta lauk kulit. disebelahku dua orang prajurit juga tengah sarapan nasi padang. Si empu warung menyiapkan nasi cadangan bagi mereka sekiranya dua tentara itu masih merasa lapar, maklum, namanya juga tentara tegap dan besar.
Ndilalah, mau tahu ? ternyata dua tentara itu makannya sedikit saja, tidak memakan nasi cadangan yang dipersiapkan empunya warung. Aku sendiri yang tidak disediakan nasi cadangan, meminta tambahan nasi karena perut ini masih meminta makan. Kedua tentara itu sejenak melihat aku makan dan (mungkin) berfikir : "Gembul juga pemuda kurus ini". Porsi sepiring saja sudah cukup banyak apalagi menambah nasi.
Dalam hati aku berujar singkat, maklum saja pak, dari semalam belum makan jadinya pagi ini perut begitu lapar.
Tukang warung pun tersenyum. Mungkin dia berfikir :"Salah kira aku. Kufikir tentara itu akan makan anyak sehingga kuberi nasi tambahan. Tak tahunya mereka makan secukupnya. Kukira si pemuda kurus itu makannya memang sedikit sehingga tak kusiapkan nasi tambahan, tak tahunya malah ia yang minta tambah"

Tuesday, February 05, 2008

Terkait hati, suasana apapun, menjadi manusiawi

Mungkin suatu ketika kita sedang bersenang hati. Lilin menyala, tepuk menggema, senyum bertebaran di seantero ruangan. Gelas-gelas minuman diangkat untuk toast, beradu satu dengan yang lain. Pada saat seperti ini kita lupa dengan masalah, musibah atau kedukaan yang terjadi meski sesaat saja. Namun juga banyak dari mereka yang kerap bergembira ria. Tiada hari untuk bersedih atau bersusah hati. Inilah hidup yang dimaknai dengan baik dan tanpa menganggap sulit. Toh hidup hanya satu kali saja, jadi buat apa bersusah hati ? ya toh ?. Itu manusiawi. Orang bergembira ria adalah hal yang manusiawi. Dia hakikatnya adalah manusia yang memiliki rasa.
Mari kita menengok kesamping. Ribuan orang miskin sulit makan, banyak dari mereka bahkan tak mampu berobat dikala sakit. Padahal kesehatan, juga pendidikan, adalah hak asasi yang patut mereka dapatkan. Itulah. Jangankan berbicara pendidikan, untuk mengisi perut yang lapar, susu buat balitanya, sakit saluran pernafasan, dll saja sulit untuk dicarikan solusinya. Dalam kondisi begini mereka masih bergembira. Bukan berarti mereka sudah senang, tetapi untuk apa juga bersusah hati : hanya menambah beban hidup yang sudah semakin berat ini. Begitu kata sebagian mereka. Ya, untuk apa bersusah hati.
Padahal didepan mereka orang kaya sedang menangis. Mereka berduka atas kepergian satu anggota keluarganya. Mereka kaya, berlimpahan materi tetapi mereka menangis, bersedih. Uang yang banya tak mampu memberikan penghiburan yang bagus, tak mampu menjumputkan spon lunak pada sudut mata mereka untuk menahan aliran air mata. Apakah salah ?, tidak. Ini juga hal yang manusiawi. Orang kaya itu juga manusia yang pasti punya rasa sedih, punya rasa susah disamping rasa suka yang berhari, minggu, bulan dan tahun mereka rasakan.
Aku. Yang juga ingin mengeluh. Orang mengatakan : manusia kuat itu tak pernah mengeluh. Mereka selalu bersikap positif terhadap apapun yang terjadi atau menimpa mereka. Hmmm, apakah harus selalu begitu. Aku tak mengeluh kalau aku masih kuat untuk melihat kenyataan pahit di depan mata ini. Namun aku juga manusia. Apakah aku tak boleh mengeluh ?. Tak bisa hati di dalam tubuh ini dan otak di dalam kepala ini aku pagari untuk selalu memberi komando senyum pada seluruh organ. Tak bisa otot ini aku paksa untuk selalu kuat bekerja memberi arti pada orang atau kehidupan. Tak bisa. Aku juga ingin berada dalam suasana keluh, membiarkan sisi manusia ini tetap bersifat manusiawi. Mengeluh untuk sekedar berbagi betapa berharganya hak manusiawi itu, untuk diri kita sendiri.