Saya pertama kali mengenalnya di tahun 2002, saat bergabung dengan Radio Jakarta News FM sebagai presenter-interviewer. Setelah itu, sampai tahun 2014, saya masih menjadi bagian tim medianya bersama mbak Arum dan Imam Bisri. Perjumpaan pertama dengan Rizal Ramli memberi kesan aktualisasi yang mumpuni pada dirinya sebagai seorang ekonom. Saya mendampingi Mas Hendro Sutanto dan Mas Gigin Praginanto saat mewawancarai beliau di kantor Econit, Tebet, Jakarta Selatan. Saat itu, Rizal Ramli belum lama lepas dari posisi menteri keuangan, akibat peralihan pemerintahan Presiden Gus Dur ke Presiden Megawati. Ia piawai, sangat ahli dalam bicara ekonomi. Bagi mereka yang tak mengenalnya, Rizal Ramli terkesan galak. Namun bagi banyak kalangan yang tahu sosoknya, ia amat humanis dan memiliki kesalehan sosial yang tinggi. Dalam suatu momen silaturahim di rumahnya, tokoh internasional ini menawarkan dan mengambilkan es krim dari kulkas untuk anak saya, yang saat itu berusia enam tahun.
Beberapa bulan setelah menjadi
pembicara kunci di ESCAP pada April 2013, kala publik masih geger dengan
penyadapan telepon Presiden SBY di bulan November 2013, telepon genggam Rizal berdering.
Di ujung sambungan, Kepala Staf Sekretariat Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa tengah memintanya
untuk menerima jabatan sebagai sekretaris jenderal di lembaga ESCAP. Rizal
menjawab dengan kalimat, "Terima kasih dan saya merasa terhormat atas tawaran
jabatan yang prestisius itu. Namun, saya menolak karena masalah dan tantangan
di Indonesia jauh lebih besar, memerlukan input
dan kesungguhan untuk membuat Indonesia menjadi negara hebat di Asia.”
Semua bermula dari ingatan masa kecil Rizal
dengan mata yang berkaca-kaca di kala hari lebaran tiba. Ia hanyalah anak kecil
yatim piatu yang sekedar ingin punya baju dan sepatu baru di hari yang fitri.
Sungguh suatu keadaan yang amat tak memungkinkan, bahkan untuk sekedar memiliki
uang jajan harian. Pengalaman masa kecil itu terasa amat menusuk kalbunya, tak
ada kebanggaan karena orang-orang merendahkan derajat keluarga mereka. Rizal lantas
ingin membuktikan diri dengan belajar tekun dan ulet. Tujuannya hanya satu,
bangkit meraih kehormatan.
Dari pengalaman itulah Rizal Ramli mulai
mengenal istilah bangkit untuk Indonesia, karena, kalau orang ingin bangkit, maka orang itu harus
biasa independen. Harus biasa mandiri. Belajar dan bekerja keras akan menuai
hasil baik bagi pelakunya dimana kemudian orang akan memandang dengan penuh
rasa hormat. Tak seorangpun kawan masa kecilnya menyangka bahwa di kemudian
hari Rizal menjadi tokoh nasional. Meski pemikirannya menjangkau level
internasional, Rizal tak tercerabut dari akar. Pemihakan pada kepentingan
rakyat Indonesia tak pernah luput dari genggaman.
Rizal Ramli kemudian dikenal sebagai figur
yang kerap mengeritik berbagai kebijakan ekonomi dan politik. Bila orang
melihat dengan cermat, sikap keras tersebut ditunjukkan bila ada hal-hal yang
dianggap mengkhianati tujuan berbangsa dan bernegara. Rizal memang tak bisa
menahan diri untuk protes terhadap segala sesuatu yang tak berpihak pada
rakyat. Tetapi, bukan hanya mengeritik, ia juga dikenal sebagai ahli solusi.
Setiap persoalan sesulit apapun, selalu ada pemecahan masalah yang tetap berada
dalam koridor pro rakyat.
Sesungguhnya ia seorang pengapresiasi.
Terhadap kinerja atau keluaran kerja yang bagus, tak jarang memuji dengan kata
“bagus” atau “hebat”. Manakala suatu produk kebijakan telah mengkhianati rakyat,
ia pasti bereaksi keras. Sebagai orang yang lahir dan besar di Indonesia, Rizal
mengapresiasi tanah air dengan segenap jiwa raganya. Ia merasa berutang budi
pada nusantara dan rakyatnya. Karena itu, setiap pikir dan langkahnya
senantiasa berindonesia. Ia memilih Indonesia.
Rizal tidak anti ekonomi pasar
dan tidak anti modal asing. Ia memberi kuliah di banyak universitas luar
negeri, misalnya di Wharton School of Business
Pennsylvania, sebuah sekolah bisnis terbaik di Amerika. Posisi sebagai Penasihat Ekonomi PBB sebetulnya
merupakan keniscayaan bahwa pandangan ekonominya bisa diterima oleh masyarakat
Internasional. Dalam mendukung kondisi ekonomi global, ada hal-hal yang harus
dijaga, antara lain yaitu keberpihakan pada rakyat dalam sektor pendidikan, kesehatan,
juga militer. Cukup jalankan sistem ekonomi sesuai UUD 1945 yang harus dianut
Indonesia. Kondisi ekonomi Indonesia justru telah melenceng ke ekonomi
neoliberal,
Rizal selalu teguh memegang prinsip ekonomi
kerakyatan. Ia selalu menyatakan tidak mencari pekerjaan. Itulah alasan bahwa
pada posisi apapun tiada sikap dan idealisme yang berubah. Instingnya selalu
bergerak sendiri untuk memperbaiki ketidakberesan, meski dapat berakibat
kehilangan fasilitas pejabat. Hal itu dibuktikan saat menjabat menteri
koordinator kemaritiman, tak seorangpun dapat membuatnya diam, hingga akhirnya
ia dicopot dari jabatan tersebut.
Rizal
memilih untuk lebih banyak berkiprah di dalam negeri, Indonesia tercinta,
dibanding permintaan sejumlah kalangan untuk mengisi posisi di level
internasional. Ia juga sering berada di tengah masyarakat kecil, merasakan
langsung aura kesulitan ekonomi mereka. Semua yang dilakukannya bisa
disimpulkan dalam satu hal, bahwa ia mencintai Indonesia. Hal itu merupakan
suatu sikap yang amat penting demi kejayaan keselamatan negeri Indonesia yang
amat kaya ini. Sikap yang harus tertanam bukan hanya bagi para pemimpin, namun
juga seluruh elemen Bangsa Indonesia. Mendefinisikan “cara mencintai” itu
amatlah sederhana, yaitu tempatkan kepentingan anak bangsa dan Negara dalam setiap
sikap dan langkah manusia Indonesia.
Kini bayangan sepatu baru di masa kecil itu
tak lagi menjadi impian. Persoalan atas dirinya telah lama diselesaikan. Ada
impian yang jauh lebih besar di depan mata, yang akan terus dibentangkannya.
Bangsa ini harus menjadi bangsa yang maju. Keyakinan itu tertanam dalam benak
dan selalu bergelora. Di tengah sejumlah elit yang ambisius terhadap jabatan
dan materi, Rizal Ramli mendekap erat cintanya pada nusantara. Ketimbang
berkiprah atau menjadi konsultan ekonomi di level internasional, ia selalu
menyukai untuk mengabdi atau mendorong perubahan di tanah air. Rizal memilih
Indonesia.

No comments:
Post a Comment