Monday, April 29, 2019



Saya pertama kali mengenalnya di tahun 2002, saat bergabung dengan Radio Jakarta News FM sebagai presenter-interviewer. Setelah itu, sampai tahun 2014, saya masih menjadi bagian tim medianya bersama mbak Arum dan Imam Bisri. Perjumpaan pertama dengan Rizal Ramli memberi kesan aktualisasi yang mumpuni pada dirinya sebagai seorang ekonom. Saya mendampingi Mas Hendro Sutanto dan Mas Gigin Praginanto saat mewawancarai beliau di kantor Econit, Tebet, Jakarta Selatan. Saat itu, Rizal Ramli belum lama lepas dari posisi menteri keuangan, akibat peralihan pemerintahan Presiden Gus Dur ke Presiden Megawati. Ia piawai, sangat ahli dalam bicara ekonomi. Bagi mereka yang tak mengenalnya, Rizal Ramli terkesan galak. Namun bagi banyak kalangan yang tahu sosoknya, ia amat humanis dan memiliki kesalehan sosial yang tinggi. Dalam suatu momen silaturahim di rumahnya, tokoh internasional ini menawarkan dan mengambilkan es krim dari kulkas untuk anak saya, yang saat itu berusia enam tahun. 
Beberapa bulan setelah menjadi pembicara kunci di ESCAP pada April 2013, kala publik masih geger dengan penyadapan telepon Presiden SBY di bulan November 2013, telepon genggam Rizal berdering. Di ujung sambungan, Kepala Staf Sekretariat Jenderal  Perserikatan Bangsa Bangsa tengah memintanya untuk menerima jabatan sebagai sekretaris jenderal di lembaga ESCAP. Rizal menjawab dengan kalimat, "Terima kasih dan saya merasa terhormat atas tawaran jabatan yang prestisius itu. Namun, saya menolak karena masalah dan tantangan di Indonesia jauh lebih besar, memerlukan input dan kesungguhan untuk membuat Indonesia menjadi negara hebat di Asia.”
Semua bermula dari ingatan masa kecil Rizal dengan mata yang berkaca-kaca di kala hari lebaran tiba. Ia hanyalah anak kecil yatim piatu yang sekedar ingin punya baju dan sepatu baru di hari yang fitri. Sungguh suatu keadaan yang amat tak memungkinkan, bahkan untuk sekedar memiliki uang jajan harian. Pengalaman masa kecil itu terasa amat menusuk kalbunya, tak ada kebanggaan karena orang-orang merendahkan derajat keluarga mereka. Rizal lantas ingin membuktikan diri dengan belajar tekun dan ulet. Tujuannya hanya satu, bangkit meraih kehormatan.
Dari pengalaman itulah Rizal Ramli mulai mengenal istilah bangkit untuk Indonesia, karena, kalau orang ingin bangkit, maka orang itu harus biasa independen. Harus biasa mandiri. Belajar dan bekerja keras akan menuai hasil baik bagi pelakunya dimana kemudian orang akan memandang dengan penuh rasa hormat. Tak seorangpun kawan masa kecilnya menyangka bahwa di kemudian hari Rizal menjadi tokoh nasional. Meski pemikirannya menjangkau level internasional, Rizal tak tercerabut dari akar. Pemihakan pada kepentingan rakyat Indonesia tak pernah luput dari genggaman.
Rizal Ramli kemudian dikenal sebagai figur yang kerap mengeritik berbagai kebijakan ekonomi dan politik. Bila orang melihat dengan cermat, sikap keras tersebut ditunjukkan bila ada hal-hal yang dianggap mengkhianati tujuan berbangsa dan bernegara. Rizal memang tak bisa menahan diri untuk protes terhadap segala sesuatu yang tak berpihak pada rakyat. Tetapi, bukan hanya mengeritik, ia juga dikenal sebagai ahli solusi. Setiap persoalan sesulit apapun, selalu ada pemecahan masalah yang tetap berada dalam koridor pro rakyat.
Sesungguhnya ia seorang pengapresiasi. Terhadap kinerja atau keluaran kerja yang bagus, tak jarang memuji dengan kata “bagus” atau “hebat”. Manakala suatu produk kebijakan telah mengkhianati rakyat, ia pasti bereaksi keras. Sebagai orang yang lahir dan besar di Indonesia, Rizal mengapresiasi tanah air dengan segenap jiwa raganya. Ia merasa berutang budi pada nusantara dan rakyatnya. Karena itu, setiap pikir dan langkahnya senantiasa berindonesia. Ia memilih Indonesia.  
Rizal tidak anti ekonomi pasar dan tidak anti modal asing. Ia memberi kuliah di banyak universitas luar negeri, misalnya di Wharton School of Business Pennsylvania, sebuah sekolah bisnis terbaik di Amerika. Posisi sebagai Penasihat Ekonomi PBB sebetulnya merupakan keniscayaan bahwa pandangan ekonominya bisa diterima oleh masyarakat Internasional. Dalam mendukung kondisi ekonomi global, ada hal-hal yang harus dijaga, antara lain yaitu keberpihakan pada rakyat dalam sektor pendidikan, kesehatan, juga militer. Cukup jalankan sistem ekonomi sesuai UUD 1945 yang harus dianut Indonesia. Kondisi ekonomi Indonesia justru telah melenceng ke ekonomi neoliberal,
Rizal selalu teguh memegang prinsip ekonomi kerakyatan. Ia selalu menyatakan tidak mencari pekerjaan. Itulah alasan bahwa pada posisi apapun tiada sikap dan idealisme yang berubah. Instingnya selalu bergerak sendiri untuk memperbaiki ketidakberesan, meski dapat berakibat kehilangan fasilitas pejabat. Hal itu dibuktikan saat menjabat menteri koordinator kemaritiman, tak seorangpun dapat membuatnya diam, hingga akhirnya ia dicopot dari jabatan tersebut.
 Rizal memilih untuk lebih banyak berkiprah di dalam negeri, Indonesia tercinta, dibanding permintaan sejumlah kalangan untuk mengisi posisi di level internasional. Ia juga sering berada di tengah masyarakat kecil, merasakan langsung aura kesulitan ekonomi mereka. Semua yang dilakukannya bisa disimpulkan dalam satu hal, bahwa ia mencintai Indonesia. Hal itu merupakan suatu sikap yang amat penting demi kejayaan keselamatan negeri Indonesia yang amat kaya ini. Sikap yang harus tertanam bukan hanya bagi para pemimpin, namun juga seluruh elemen Bangsa Indonesia. Mendefinisikan “cara mencintai” itu amatlah sederhana, yaitu tempatkan kepentingan anak bangsa dan Negara dalam setiap sikap dan langkah manusia Indonesia.
Kini bayangan sepatu baru di masa kecil itu tak lagi menjadi impian. Persoalan atas dirinya telah lama diselesaikan. Ada impian yang jauh lebih besar di depan mata, yang akan terus dibentangkannya. Bangsa ini harus menjadi bangsa yang maju. Keyakinan itu tertanam dalam benak dan selalu bergelora. Di tengah sejumlah elit yang ambisius terhadap jabatan dan materi, Rizal Ramli mendekap erat cintanya pada nusantara. Ketimbang berkiprah atau menjadi konsultan ekonomi di level internasional, ia selalu menyukai untuk mengabdi atau mendorong perubahan di tanah air. Rizal memilih Indonesia.


No comments: