Pagi tadi, berangkat kerja dari pamulang lewat jalan raya Pondok Cabe begitu padat oleh kendaraan yang melintas. Semula kufikir karena hari senin pagi maka suasana orang berangkat kerja lebih lain dari biasanya. Ternyata pandanganku sedikit keliru. Biasanya senin pagi jalur ini memang lebih ramai tetapi tadi pagi bukan sekedar karena senin pagi, tapi kenyataan yang tak terbantahkan bahwa volume kendaraan memang sudah sangat dahsyat banyaknya. Volume kendaraan ini terus bertambah day by day, bulan demi bulan dan seterusnya. Volume pertambahan kendaraan ini memang kurasakan dimanapun tempat di jalan raya dan non raya. Aku teringat sewaktu masih sekolah di SD, sering main sepatu roda di jalan raya depan rumah nenek. Jalan raya begitu mulus dan sepi pada saat itu. Sekarang ? jangan tanya. Nyebrang jalan saja susah. Di Depok juga begitu. Sewaktu mulai kuliah disana tahun 1992, aku ditawari tanah sepetak di jalan raya Kukusan. Harganya ? 45 ribu semeter. Bah ! untuk apa beli tanah di jalan sepi kayak gini, batinku saat itu. sekarang ? jangan tanya arus kendaraan di jalan raya kukusan. Ramai banget dan harga tanahpun melambung jutaan rupiah semeter. Nyesel juga kenapa gak beli untuk sekedar investasi, begitu. Lalu jalan raya Parung. Waktu itu sepi sekali. Sekarang ?. No komen deh. Lalu jalan raya didepan rumah uwakku di Cihaurbeuti Ciamis. Dulunya tiduran di jalan aspal gak bakal ada yang melindas. Yang banyak lewat sepeda, kerbau, orang desa dll. Sekarang ? jadi jalan raya propinsi dimana bus-bus besar juga lewat kesitu. Nyebrang jalan juga susah, mesti nengok kiri kanan, gak seperti dulu lagi. Sama juga waktu aku masih SMP berangkat dari rumah Margaasih ke Cimahi, nunggu angkot susah dan lama. Sekarang ? sudah jadi jalan raya utama menghubungkan Cimahi dan Soreang sebagai ibu kota kabupaten Bandung. Sepi ? gak lagi. Macet parah malah. Hitungan waktunya kurang dari dua puluh tahun.
Kembali ke Pondok Cabe, seperti apa ya lima tahun kedepan ?, rasanya makin padat saja. Kasihan juga angkot yang lewat sana, meski nyebelin karena sering kepot kanan kiri, makin seret saja kali kehambat macet. Bagaimana pula sepuluh tahun kemudian ?, lima belas, dua puluh, dua puluh lima tahun ?. Ampun pak, Jawa terbenam oleh besi-besi tunggangan. Bila itu terjadi, apa yang kemudian terjadi ?. Mungkin Bang Dedy Mizwar bilang : kiamat sudah dekat, he..he.. Mungkin juga makin berat tugas polisi lalu lintas. Tapi apa yang bisa menghadang modernisasi kayak gini ?. Ini industri yang gak bisa distop, menyangkut devisa, tenaga kerja, ekonomi, moneter, hubungan baik negara produsen-negara konsumen, gaya hidup masyarakat, pemasukan pajak, dll. So, bisa saja kepadatan dikurangi. Misal budaya kerja di rumah seperti Korea, data kirim cukup lewat internet. Rapat paling seminggu sekali atau dua kali bertemu. Bisa gak ya di Indonesia ?. Gak bisa kali yeee karena ada tradisi masuk kerja cuma sekedar setor muka (maaf gak menyinggung siapa-siapa, karena saya sendiri tersinggung), gak ada produktivitas sama sekali. (Ngelus dada) Aku hanya melihat di kejauhan, kedamaian yang samar, semu, ilusif. Motor dan mobil makin garang, gak mau ngalah di jalan yang makin sempit itu. |
Monday, February 11, 2008
Jalan raya Pondok Cabe
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment