Kenapa tulisan ini aku beri judul i wonder...
Ceritanya begini, tadi ketika menjalankan ibadah Jum'at, aku datang ke mesjid sedikit terlambat. Kulihat ruang dalam mesjid sudah penuh jadi aku memilih tempat di bagian selasar kiri luar. Untungnya dari kantor selalu mempersiapkan sejadah, sekiranya mendapat tempat sholat diluar mesjid tidak masalah. Usai adzan awal aku sempatkan shalat sunat dahulu hingga kemudian ritual shalat jum'at masuk ke khotbah dan shalat dua raka'at. Nah sebelum shalat dua raka'at ini kebetulan seorang umat berdiri disampingku. Menyadari dia tidak membawa sajadah, segera saja kuambil sajadahku yang sudah terhampar untuk dibaringkan horizontal agar umat tersebut tidak sujud pada lantai yang kotor. Maksud hati berbaik, tak dinyana tanganku yang menggenggam sajadah, hendak menghamparkan untuknya, ditepis olehnya. tepisan itu mengenai punggung tanganku dengan ucapan : "sudah nggak usah ?". Aku sedikit terhenyak. Nada ucapan itu terasa kurang sopan. Sepintas kulirik jemaah jum'at itu, putih, berkoko, peci sorban dan janggut yang cukup panjang, tipikal ustad dalam pengajian. Usianya mungkin baru 25 - 30 an. Aku lantas merebahkan lagi sajadahku vertikal untukku sendiri. This is i wonder..., aku bertanya-tanya siapa jemaah itu ya ? tiada senyum diwajahnya atau ucapan terima kasih mungkin, sekiranya menolak uluran sajadahku. padahal lantai kotor, apakah ajaran keyakinannya harus shalat tanpa alas, atau tak boleh menggunakan barang orang, ataukah ini yang disebut islam tak ramah, atau apa ya ?. Pertanyaan itu membayangi terus menerus hingga shalatku menjadi tidak khusuk (meski sehari-hari juga mungkin tak khusuk, hehe..). Tapi kentara sekali sikap umat itu mengganggu ibadahku. Usai shalat kucoba silaturahmi dengan mengulurkan tanganku. Ia menyalami singkat senempelnya saja, tanpa kata-kata dengan mimik dingin. Usai doa sejenak, aku beranjak pergi. Di luar mesjid, i wonder.... mungkinkah dia malaikat yang menguji kesabaranku ?, atau manusia yang diutus menguji kesabaranku, atau sebetulnya tak ada peristiwa luar biasa, itu hanyalah bagian rutinitasnya sehari-hari ?. Ah sudahlah. Tapi memang usikan ini mengenangku kembali pada wajah muslim yang ditakuti barat. Sesama muslim saja tak ramah.... I wonder... |
Friday, February 08, 2008
I wonder.....
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment