Tuesday, February 05, 2008

Terkait hati, suasana apapun, menjadi manusiawi

Mungkin suatu ketika kita sedang bersenang hati. Lilin menyala, tepuk menggema, senyum bertebaran di seantero ruangan. Gelas-gelas minuman diangkat untuk toast, beradu satu dengan yang lain. Pada saat seperti ini kita lupa dengan masalah, musibah atau kedukaan yang terjadi meski sesaat saja. Namun juga banyak dari mereka yang kerap bergembira ria. Tiada hari untuk bersedih atau bersusah hati. Inilah hidup yang dimaknai dengan baik dan tanpa menganggap sulit. Toh hidup hanya satu kali saja, jadi buat apa bersusah hati ? ya toh ?. Itu manusiawi. Orang bergembira ria adalah hal yang manusiawi. Dia hakikatnya adalah manusia yang memiliki rasa.
Mari kita menengok kesamping. Ribuan orang miskin sulit makan, banyak dari mereka bahkan tak mampu berobat dikala sakit. Padahal kesehatan, juga pendidikan, adalah hak asasi yang patut mereka dapatkan. Itulah. Jangankan berbicara pendidikan, untuk mengisi perut yang lapar, susu buat balitanya, sakit saluran pernafasan, dll saja sulit untuk dicarikan solusinya. Dalam kondisi begini mereka masih bergembira. Bukan berarti mereka sudah senang, tetapi untuk apa juga bersusah hati : hanya menambah beban hidup yang sudah semakin berat ini. Begitu kata sebagian mereka. Ya, untuk apa bersusah hati.
Padahal didepan mereka orang kaya sedang menangis. Mereka berduka atas kepergian satu anggota keluarganya. Mereka kaya, berlimpahan materi tetapi mereka menangis, bersedih. Uang yang banya tak mampu memberikan penghiburan yang bagus, tak mampu menjumputkan spon lunak pada sudut mata mereka untuk menahan aliran air mata. Apakah salah ?, tidak. Ini juga hal yang manusiawi. Orang kaya itu juga manusia yang pasti punya rasa sedih, punya rasa susah disamping rasa suka yang berhari, minggu, bulan dan tahun mereka rasakan.
Aku. Yang juga ingin mengeluh. Orang mengatakan : manusia kuat itu tak pernah mengeluh. Mereka selalu bersikap positif terhadap apapun yang terjadi atau menimpa mereka. Hmmm, apakah harus selalu begitu. Aku tak mengeluh kalau aku masih kuat untuk melihat kenyataan pahit di depan mata ini. Namun aku juga manusia. Apakah aku tak boleh mengeluh ?. Tak bisa hati di dalam tubuh ini dan otak di dalam kepala ini aku pagari untuk selalu memberi komando senyum pada seluruh organ. Tak bisa otot ini aku paksa untuk selalu kuat bekerja memberi arti pada orang atau kehidupan. Tak bisa. Aku juga ingin berada dalam suasana keluh, membiarkan sisi manusia ini tetap bersifat manusiawi. Mengeluh untuk sekedar berbagi betapa berharganya hak manusiawi itu, untuk diri kita sendiri.

No comments: