Wednesday, February 27, 2008

Si Very

Very Verdiansyah,
Nama itu adalah nama teman sekantorku di sebuah workshop bilangan Pondok Indah. Pertama kesan yang kutangkap dari nama itu adalah pemakaian huruf yang salah. Very, mestinya Fery atau Pery atau Peri atau Feri mungkin lebih baik. Lalu Verdiansyah, mestinya Ferdiansyah. Tak tahulah memang orang tuanya yang memberi nama begitu. sebab kutanya artinya apa ? Very tak mampu menjawabnya. What is the name ?... Shakes icon itu sekelebat lewat dalam hati.
Very sedang menjajaki sebuah hubungan serius dengan seseorang yang tengah mengambil master di negeri jiran Malaysia. Hebat lah Ver, ucapku memberi semangat. Asal jangan suatu saat nanti kamu bergabung dengan ISTI (ikatan suami takut istri), karena secara kultur sang istri setingkat ada diatas, lebih berpendidikan.
Orang Sukabumi ini pernah membuat karya fenomenal. Judulnya Menafsir Agama Untuk Praksis Pembebasan. Isinya cukup komprehensif dengan pelibatan pemikir-pemikir dunia terkemuka. bayangkan, agama ditafsirkan oleh manusia, sang subyek dan juga obyek dari agama itu sendiri. Dan demi bebas dari penjara spiritual, maka perlu menafsir agama itu dengan menjalankan syariatnya tanpa harus terjebak dogma-dogma tradisional dalam agama, yang sifatnya kolot karena agama itu ciptaan manusia ribuan tahun lalu. Agama langit, bumi, air atau apalah namanya. Buku itu sebenarnya hanya buku skripsinya untuk lulus dari UIN Syarief Hidayatullah. Bisa jadi, almarhum Syarief akan membacanya juga bila masih hidup. Sekedar skripsi ya ?, nanti dulu. Buku itu merangsang lahirnya pemikiran-pemikiran post spiritualisme yang lain, menjadi perbincangan di kalangan theolog dan praktisi rohaniawan serta menjadi acuan untuk praksis pembebasan spiritual yang progresif. Hal itu berlangsung hingga kini. Bisa jadi buku Keyakinan Yang Membebaskan karya Erwin Pardede pun terinspirasi buku karya Very ini. anak bangsa yang lahir nun jauh di suatu sudut kecamatan Parakan Salak Sukabumi.
Tapi bukan itu yang fenomenal. Yang fenomenal bagiku adalah sosok Very itu sendiri. Pikiran dan ucapannya benar-benar terbebas dari rantai dogma. Ia begitu menjiwai filosofi yang pernah ditulisnya dalam buku skripsi itu. terlebih bila bertemu dengan kedua orang tuanya di Sukabumi, yang taat beragama bahkan menjadi tokoh masyarakat, Very adalah pribadi yang membebaskan diri dari keterikatan itu. Fenomenal.

No comments: