Wednesday, February 27, 2008

what if....

what if...
Apa yang kita bisa lakukan jika ?....
Hmmm...
Ada beberapa tema, tapi cukup dua saja yang ingin kuberbagi disini :
1. Umroh bersama Ihsan
2. Bayar pajak mahal

Umroh bersama Ihsan. Kalimat iklan itu selintas lewat didepan mataku. Ikhsan, pemenang Indonesian Idol itu didaulat untuk menemani mereka yang akan beribadah ke tanah suci. Menjadi haji kecil. Wow alangkah hebatnya. Terkesan bahwa umroh bersama ikhsan akan menyenangngkan, sekaligus berpahala. Apa hukumnya ya bila ibadah itu mengikuti kesenangan dahulu sementara ibadah (umroh dalam hal ini) menjadi nomor duanya saja. Aku agak terganggu dengan kalimat itu, mengapa mengedepankan bersama artis kita beribadah ?, apakah justru akan menjauhkan dari khusyuk ? karena topik hariannya bisa jadi rumpi bersama sang idol. Ataukah aku salah, yang terjadi sebaliknya mereka akan makin khusyuk berumroh karena umroh yang menyenangkan bersama artis pemenang idol. What if.... aku pada posisi Ikhsan, kira-kira seperti apa perasaanku ya ? aku sendiri bertanya-tanya. Rasanya aku menanggung beban, mereka umroh bisa saja karena kutemani, bisa juga karena niat tulus dan "kebetulan" bareng Ikhsan. Tapi aku galau, kesertaanku menemani umroh itu juga berarti memabrurkan umroh mereka. Wallahu alam.
Aku tak membenci Ikhsan. Aku bangga anak itu sejak kulihat dikebun bersama ayahnya di Medan sana sebelum proses Idol yang mengantarkan dia menjadi pemenang. Aku juga mendukung dia untuk menang menjadi idol Indonesia, dan terwujud. Hanya saja disayangkan anak itu masih labil kejiwaannya apalagi dia menemui dunia hedonitas rakus di Jakarta, sementara Ikhsan berangkat dari sebuah keluarga secara tampilan islami. Be careful san, jangan sampai kamu jatuh saja...

What if kedua...
bayar pajak mahal.
ya memang mahal sekali, lebih mahal daripada "pajak" zakat. Secara logika coba deh dilihat dan direnungkan. pajak itu buatan manusia semata dan aturan zakat itu buatan juga tetapi tak semata manusia ansih. dia bermuatan kesalehan sosial, kepedulian dan maslahat. Pajak itu bisa lima persen, misal jual beli rumah. Jadi kalau rumah harganya seratus juta, lima juta pajaknya dan belum bayar lain-lain termasuk notaris. Lalu bisa juga pajak balik nama kendaraan bermotor. Pajak rokok malah hebat, 35 persen (bener gak ya). pajak penghasilan pribadi juga besar, tapi lihat "pajak" zakat. Hanya dua setengah persen saja. Fitrah apalagi dalam setahun paling besar cuma lima belas ribu perorang. He..he..he...
What if.. angka pajak diperkecil namun pembayarnya diperbanyak. mungkin mereka yang selama ini menghindari pajak akan rajin membayar jika merasa tak terbebani dengan angka yang besar. bisa saja npwp mencapai 90 persen orang berpenghasilan jika komponennya murah. Baru deh boleh teriak : "Apa kata dunia ?!"

Maaf kalau banyak salah. memang bisanya ngritik. maaf loh

No comments: