Thursday, February 28, 2008

absurditas tradisional NU

Berbicara perihal ormas keagamaan di Indonesia akan menyebut dua hal : NU dan Muhammadiyah. Padahal diluar itu masih banyak ormas lain seperti Hizbut Tahrir, Muslimin Indonesia, FPI hingga organisasi kecil lainnya setingkat kecamatan atau kelurahan. Nah NU dan Muhammadiyah ini merupakan organ terbesar di Indonesia yang terpisahkan diantaranya oleh sebutan tradisional dan moderat. Secara kultur, Nahdiyin bercirikan organisasi konvensional, santri yang sarungan, mengkaji kitab kuning secara mendalam dan mempelajari keislaman yang tak beranjak dari kultur kelahirannya. Ulama dalam Nahdiyin dinyatakan sebagai Kyai, yang lalu berlaku umum untuk menyebut seseorang dengan tingkatan ilmu yang tinggi mengenai keagamaan islam sehingga menjadi tuntunan dan pegangan pribadi muslim. Kyai menyebarkan salam spiritual, mewujud menjadi pimpinan pondok pesantren yang menghasilkan ustad ustad pembimbing agama. Sementara di tingkat itu dalam organisasi Muhammadiyah mewujud pada buya. Beberapa buya terkenal misalnya Buya Hamka dan Buya Syafii Maarif.
Sekedar catatan, ini pandangan orang yang awam....
Di masa kontemporer ini NU masih memegang paham yang tradisional itu. Menjaga kemurnian ajaran islam dari perkembangan pesat zaman yang nyata-nyata merusak aqidah, moral, ukhuwah, kultur dan sosial. Coba masuk ke mal atau plaza. Disitulah daerah bebas norma. Perempuan bercelana pendek, tanktop, mesra-mesraan muda-mudi mudah saja terjadi. Bagi umat islam sendiri tak bisa membedakan mana siang mana malam, sudah masuk waktu asar belum, sudah masuk waktu magrib belum, tidak ketahuan kalau tidak menengok arloji. Tradisionalitas inilah yang menjadi kekuatan NU, konsistensi ajaran islam yang tak berubah sepanjang masa mengikuti bagaimana zaman dulunya ajaran itu disebarkan dan dipelajari.
Namun, bagaimanapun perkembangan zaman tak mampu dibendung oleh istiqomah ilmu, bahkan ilmu masa kini sekalipun. Anak-anak muda yang lahir di era komunikasi modern, bahkan masa kini yang era digital, pasti terpengaruh. Mereka bertahan dan ada pula yang memberontak atas pemasungan tradisional ini. Inilah yang mungkin kuran dipahami para "senior" Nahdiyin, para sepuh yang menganggap kaum muda NU, intelektual muda NU yang cerdas itu akan senantiasa tradisionil. What the Fact is ? Ini zaman modern, ini metropolitan, tak mungkin lagi mereka itu mesti sarungan sementara bioskop memanggil-manggil untuk ditontoni. Mal yang merayu untuk disambangi. Arena hiburan, pijat, Bilyar, yang bertebaran diseantero jengkal tanah. Mampukah melihat ini, kaum muda NU itu bisa menghadapkan lima jari di seberangnya ? berkoar NO ! tidak !!. Berat kali ya ?
Pejuang era sekarang tak lagi berbasis di kelas, sudut musholla, atau majelis taklim. pejuang masa kini sudah menikmati gurihnya moccacino kafe sembari melihat pemandangan luar dari balik kaca besar mal mewah. Perjuangan, pemikiran, menjadi suatu kenisbian untuk dibarengi gaya hidup.
Seorang kawan muda Nahdiyin yang pernah bekibar namanya di jajaran pergerakan, ketika dengan guyon kuperingatkan untuk tetap berbasis nahdiyin yang santun, tradisional, taat islam, mana halal mana haram, dengan mudahnya berkata : "Ah, itu kan cuma fiqih". No more comment.
So bukankah menjadi sebuah absurditas tradisional itu ? khususnya bagi kalangan muda ?

No comments: